Dia ceritakan, awalnya dia dan psikolog dari P2TP2A sempat ragu melepas anak-anak itu ke tangan si ibu. Namun setelah mengonfirmasi masing-masing orang tua model via telepon, akhirnya Illiza mengizinkan para model dititipkan kepada ibu tersebut. “Jadi minggu malam anak-anak itu tinggal di rumah si ibu di Banda Aceh. Tapi saya perintahkan petugas pantau mereka terus sampai ke pelabuhan pada esok harinya,” jelas dia.
Sementara itu, terkait pembinaan yang dilakukan kepada para model dan agensi di Balai Kota, Illiza mengaku dari 95 peserta hanya 45 orang yang dibina. Menurutnya, sisa 50 model lainnya mengenakan pakaian sesuai syariat, sehingga bisa langsung pulang ke rumah masing-masing.
“Pembinaan yang kami lakukan diawali dengan mewawancarai tiap peserta. Kami tes psikologinya dengan menanyakan seputar hubungan keluarga, kecenderungan yang dimilikinya, motivasinya ikut kegiatan itu, sehingga terungkaplah kepribadian anak-anak ini,” kata Illiza.
Berdasarkan hasil rapat bersama dua psikolog dari P2TP2A, dia menyimpulkan bahwa sebagian besar model yang diwawancarai itu memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua mereka. “Sebagian lagi punya masalah ekonomi, sehingga harus mencari nafkah melalui jalur modeling untuk membiayai keluarganya,” imbuh Illiza.
Wali Kota mengatakan, Pemerintah Kota Banda Aceh serius menindak segala bentuk kegiatan yang mengarah ke praktik Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT) di Banda Aceh. Menurut dia, LGBT sama halnya seperti aliran sesat yang harus segera disembuhkan, karena dapat mempengaruhi orang lain.
“Saya tidak menuduh modeling mengisyaratkan LGBT karena butuh pembuktian. Namun nyatanya banyak pelaku LGBT yang berasal dari dunia modeling, kita harus terus pantau,” demikian Wali Kota Banda Aceh.
Editor: cheedsains
Sumber: Serambi Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar